SUMBER TETEK atau CANDI BELAHAN memang sepi pengunjung wisatawan, banyak faktor penyebab sepinya pengunjung, jalanan yg sempit dan rusak, tanjakan berkelok yg tinggi, mgkin juga tak dipromosikan oleh daerah setempat menjadi tempat wisata. Padahal lokasi SUMBER TETEK ini masih asri, dari kanan kiri kita disuguhkan pemandangan hutan yg hijau dan udara yg sejuk. Yaa..dgn bersepedahlah kita bisa menikmati asrinya pemandangan meskipun harus naik turun dari sepeda karena tingginya tanjakan yg gk mungkin kita kayuh, disamping jalanan aspal yg rusak kita juga tak harus memaksakan kehendak untuk melaluinya..kalau gak kuat ya turun aja lah..hehe..yg kuat silahkan tapi tunggu diatas biar terlihat kompak walaupun sesekali kita saling berkomentar adu mulut dengan bercanda tapi semuanya bertujuan untuk memberi semangat agar lelah bisa teratasi dgn kebersamaan.
SEKILAS tentang
Candi Belahan atau Candi
sumber Tetek terletak di wilayah
Dusun Belahan, Desa
Wonosonyo, Kecamatan Gempol,
Pasuruan, Jawa Timur, tepatnya
sekitar 40 km dari kota
Pasuruan. Candi ini sebenarnya
kalau dilihat dari arsitektur
bangunannya merupakan
petirtaan yang sangat unik dan
mempesona, karena terdapat
dua patung wanita Dewi Sri serta
Dewi Laksmi. Dari salah satu
patung yang berdiri disitu, yaitu
patung Dewi Laksmi mengalir air
melalui tetek (kedua puting susu)
, yang ditampung pada sebuah
kolam berukuran kurang lebih 6
x 4 meter di depan/bawah
patung tersebut. Maka dari itu
masyarakat setempat menyebut,
candi Belahan ini dengan
sebutan candi Sumber Tetek.
Kedua patung ini merupakan
lambang kesuburan dan
kemakmuran, posisi kedua
patung tersebut berdiri
berdampingan membelakangi
dinding yang terbuat dari batu
bata dihiasi dengan relief yang
menggambarkan Wisnu
menunggang Garuda setinggi
sekitar tiga meter. Air yang
keluar dari patung tersebut
mengalir sepanjang tahun,
bahkan di musim kemarau
sekalipun. Candi ini merupakan
salah satu dari sekitar 80
bangunan candi kecil yang
ditemukan di seputaran Gunung
Penanggungan. Terletak pada
ketinggian sekitar 700 meter di
atas permukaan air laut. Bahkan
candi ini merupakan salah satu
candi yang belum pernah
dipugar.
Air yang bersumber dari tetek
patung Dewi Laksmi ini sangat
jernih, hingga sampai sekarang
digunakan sebagai keperluan
sehari-hari. Oleh masyarakat
setempat. Kebutuhan air bersih
ini tak hanya dinikmati penduduk
Belahan Jawa, namun juga warga
desa tetangga yang letaknya jauh
di kaki gunung dan dikenal
sebagai warga Belahan Nangka
meliputi Dukuh Genengan, Jeruk
Purut, Gedang, Pojok, Karang
Nangka, Dieng, Kandangan serta
penduduk Kunjoro yang
berbatasan dengan Mojokerto
Konon menurut warga setempat,
air tersebut dipercaya memiliki
khasiat tertentu seperti bisa
menjadikan awet muda dan
kesembuhan terhadap segala
penyakit-penyakit. Sosok
penunggu kawasan ini dipercaya
menjaga kelestarian situs
petirtaan Sumber Tetek. Konon
pada masa penjajahan Belanda
(banyak koleksi patung yang
berada di Belanda), ada upaya
untuk mengangkut salah satu
ornamen candi. Tetapi tidak ada
satu orang pun yang mampu
mengangkatnya sehingga upaya
pengangkutan tersebut gagal
dan keaslian situs Sumber Tetek
tersebut tetap terjaga sampai
sekarang.
Meski belum tersentuh
pemugaran, Candi Belahan atau
Petirtaan Sumber Tetek
sangatlah pantas untuk
ditawarkan sebagai Daerah
Kunjungan Wisata. Karena
ditunjang dengan eksotika candi
yang sangat unik dan
mempesona, dengan dua patung
wanita Dewi Sri serta Dewi
Laksmi yang mengalir air melalui
kedua teteknya (puting susu).
Kejernihan serta kesegaran air
Sumber Tetek yang ditampung di
kolam tersebut serta keindahan
alamnya tetap memiliki daya
pikat yang kuat. Selain itu
semua, menuju lokasi wisata
candi ini jalan perbukitan yang
menanjak dan bekelok, disuguhi
pemandangan berupa hutan
pohon akasia dan areal ladang
penduduk. Jika cuaca cerah,
kepenatan kita selama
perjalanan akan terobati dengan
hadirnya pemandangan indah
dari puncak gunung
Penanggungan. Suasana yang
sejuk, tenang dan asri khas
pedesaan akan semakin sejuk
ketika sapaan ramah penduduk
setempat yang sudah tidak
merasa asing dengan wisatawan
karena desa mereka sering
menjadi rute pendakian menuju
puncak Gunung Penanggungan.
.
Salam bersepeda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar